Jumat, 16 September 2016

[CERPEN] Parfait, Cappuccino Latte, and Choco Lava Cake

Parfait, Cappuccino Latte, and Choco Lava Cake
Oleh: Listyaputri

Suara derap langkahnya terdengar mendecit dari lantai kayu. Perlahan namun pasti, menggerakkan kaki nya ke arah salah satu meja di pojok ruangan minimalis bercat lavender dan putih tersebut. Memilih meja berkursi dua yang berada di pojok ruangan dibandingkan meja-meja yang lain yang tersebar di ruangan seluas sekitar 10 x 7 meter itu merupakan kebiasaannya setiap dia datang kemari.
            Rambut hitam panjang bergelombang yang masih asli, bukan hasil membuang-buang lembaran kertas hijau di sebuah tempat bernama salon. Kulit putih yang nampak seperti pasir pantai yang belum terinjak oleh siapapun, dan sebuah kacamata berbingkai biru tua dengan sedikit corak silver yang menghalangi mata coklat nya dari pandangan langsung orang-orang, berpadu lengkap dengan kaus lengan panjang berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna merah, ditambah dengan hoodie lengan pendek berwarna jingga. Celana panjang berwarna hitam yang tidak terlalu menempel kulit, nampak sangat cocok menutupi kaki rampingnya dan seakan berusaha menyembunyikan fakta bahwa tingginya hanya sekitar 165 cm di usianya yang 19 tahun ini.
            Perpaduan bunga mawar putih serta lavender yang ditata sedemikian rupa di atas setiap meja seakan menyambut perempuan manis ini yang selalu datang pada hari Sabtu di tempat tersebut. Kursi-kursi dan meja-meja kayu yang berada di sekitar ruangan mengkilat terkena sinar matahari pagi yang belum lama muncul dari persembunyiannya. Aroma Cappucino dari sebuah konter di sebelah kiri ruangan tersebut seakan menyambut kedatangannya.
            Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 07.30 saat gadis itu mendudukkan dirinya dengan elegan di salah satu kursi dan meletakkan tas selempang berwarna coklat yang dibawanya dengan hati-hati di atas meja. Menikmati suasana pagi di luar jendela untuk beberapa saat sebelum tangannya mulai bergerak untuk mengeluarkan benda elektronik berbentuk persegi panjang dari dalam tasnya dan menyalakan benda tersebut.
            “Selamat pagi, nona. Anda ingin pesan apa?” kegiatannya terhenti sejenak ketika suara dari seorang pelayan menggelitik telinganya.
            “Satu Mix Berries Parfait,” menjawab singkat, mengabaikan selembar kertas berisikan menu yang tersedia di depannya.
            “Mohon tunggu sebentar,” dengan sigap, pelayan berbaju putih dengan bandana merah muda yang ada di sampingnya itu langsung mencatat pesanannya.
            Menunggu hingga derap langkah pelayan tersebut menjauh, sebelum dia melanjutkan kegiatannya. Menggerakkan kursor di layar benda elektronik di depannya dan mulai membuka sebuah file. Jari jemarinya yang lentik perlahan menari di atas keyboard, menorehkan kata-kata indah yang penuh makna di layar monitor, seakan hanyut dalam dunianya sendiri. Siapa yang tidak mengenal Reina Violet? Seorang novelis yang namanya sedang melambung karena karya-karyanya yang membuat orang-orang terpesona.
             Kring!
            Suara bel dari pintu yang terdengar sangat jelas ditelinganya sedikit mengusik imajinasi yang perempuan tersebut pikirkan. Dia terus menatap layar monitor di depannya tanpa memperdulikan siapa yang datang. Dia sudah terlalu hafal orang tersebut sejak enam bulan lalu. Seorang laki-laki yang selalu mengganggu konsentrasinya karena datang di saat yang hampir bersamaan dengan dirinya dengan alasan ‘tidak sengaja’.
--------------------------------------------------------------------------
            Enam bulan yang lalu, hari Sabtu pagi yang cerah. Kicau burung menemani tiap langkah orang-orang yang masih sibuk berlalu lalang. Awan putih sehalus kapas tersibak, membiarkan sinar sang surya menghangatkan hati orang-orang yang beku.
            Seorang gadis manis terlihat duduk di pojok ruangan yang sepi, belum tampak ada pembeli lainnya yang datang, apalagi hari masih pagi seperti ini. Dia tampak asyik berkutik dengan mesin elektronik di depannya seperti hari-hari yang lalu. Segelas Parfait yang terlihat baru dimakan sesuap tampak di depannya.
            “Giovan! Giovan!” suara para gadis yang mencekik telinga di jalanan luar sejenak menghentikan aktifitasnya. Dia seperti pernah mendengar nama tersebut, sangat sering. Tapi siapa? Kebiasaannya berpikir jauh untuk membuat sebuah novel sepertinya membuat ingatannya sedikit kabur.
            Kring!
            Bel di pintu depan berbunyi, diikuti dengan hembusan nafas tidak beraturan dari seseorang yang memasuki pintu tersebut. Sedikit tertarik, Reina mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan terfokus pada layar komputer. Melihat untuk memastikan siapa orang yang datang sepagi ini di tempat itu selain dirinya.
            Mata coklatnya seketika melebar ketika dia mengetahui siapa orang yang baru masuk tadi, orang yang namanya terus diteriakkan para gadis di jalanan luar. Orang yang ternyata sangat dikenalnya. Mulutnya terbuka ketika pandangannya dan orang tersebut bertabrakan. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan tidak percaya. Tidak percaya jika takdir akan mempermainkan mereka lagi setelah tiga tahun berlalu.
            “Chase?”
            “Reina?”
--------------------------------------------------------------------------
            “Selamat pagi!” orang tersebut menyapa dengan meninggikan suaranya dan langsung duduk di depannya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
            Chase Giovan, seorang model papan atas yang sedang naik daun. Rambut model spike berwarna coklat miliknya nampak sedikit basah, bersinar terkena matahari pagi. Bola mata hitamnya terhalang oleh kacamata berwarna senada yang selalu ia kenakan saat berkunjung ke tempat tersebut, beralasan bahwa benda itu ia gunakan untuk penyamaran bagi seorang model terkenal seperti dirinya. Kaus putih polos berpadu pas dengan jaket biru tua dan celana denim yang ia kenakan.
“Tolong satu Cappuccino Latte,” Ia berkata lantang pada pelayan yang sebelumnya datang ke meja tersebut dan dengan segera dijawab dengan sebuah anggukan oleh pelayan itu.
  Mengabaikan laki-laki di depannya, Reina terus berkutik dengan huruf-huruf yang terpampang dihadapannya. Pikirannya melambung jauh, seakan dibawa pergi oleh angin hingga ke langit tertinggi. Sama sekali tidak mengetahui bola mata hitam yang menatapnya sedari tadi, memperhatikan gerakannya setiap detik tanpa ada yang terlewat.
            “Hai,” orang yang menatapnya tersebut memberanikan diri untuk membuka percakapan, tidak tahan dengan suasana canggung yang selalu tercipta ketika keduanya bertemu.
            Hening menyelimuti. Tidak ada respon dan tidak ada kata yang keluar dari mulut gadis manis tersebut yang menanggapi. Hanya terdengar suara detik jam yang menggema di seluruh ruangan yang berisi dua orang tersebut.
            “Hai,” tidak menyerah, Chase menaikkan sedikit intonasi suaranya. Melambai-lambaikan tangannya di depan gadis tersebut perlahan. Mencoba agar gadis itu keluar dari imajinasinya dan setidaknya merespon dirinya.
            Hanya suara detik jam yang kembali terdengar. Seakan gadis tersebut belum menemukan pintu keluar dari dunia imajinasinya, atau mungkin dia sudah menemukannya namun enggan untuk membuka.
            “Reina,” masih tidak menyerah, Chase makin mengulurkan tangannya. Mencoba untuk mengambil kacamata biru tua yang menyembunyikan permata coklat yang gadis itu miliki.
            “Apa maumu, Chase?” usahanya berhasil. Reina menepis perlahan tangan Chase dan  menarik tubuhnya menjauh, menatap laki-laki di depannya itu dengan sedikit geram.
            Sejak bertemu enam bulan lalu, Chase membuatnya jengkel. Sudah tiga tahun mereka lulus dari SMA dan tingkah laki-laki tersebut masih sama. Jalan yang mereka pilih kini sudah berbeda, bisakah setidaknya ia mengerti keadaan masing-masing? Seorang model dan seorang novelis adalah pekerjaan yang jauh berbeda. Ia seharusnya tahu hal itu.
            “Tidak ada apa-apa,” seulas garis lengkung muncul di bibir Chase. Seakan puas karena usahanya berhasil. Ia menatap gadis itu lagi untuk beberapa saat sebelum berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah dapur di kafe tersebut.
            Reina menatap punggung laki-laki itu dengan penuh kebingungan. Bertanya-tanya dalam hati tentang kelakuan laki-laki yang menjadi saingannya semasa SMA dahulu. Nampak dimatanya jika laki-laki itu berkata sesuatu pada seorang pelayan. Dia juga melihat ada kotak kecil berbentuk persegi yang entah apa isinya, diberikan kepada pelayan tersebut.
            Tidak ingin berpikir makin jauh, Reina kembali memfokuskan pikirannya kepada barisan kata yang tertera di monitor. Dia sudah hampir mencapai akhir, namun imajinasinya telah dirusak oleh laki-laki tersebut, barusan. Apa yang tadi Chase berikan pada pelayan tersebut? Dia tidak bisa berhenti untuk berpikir tentang hal itu.
            “Memperhatikanku?” suara laki-laki tersebut kembali terdengar di telinganya, lagi. Jika ini adalah kafe miliknya, pasti Reina akan melempar laki-laki itu dengan kursi yang ada. Bisakah untuk sedetik Chase tidak mengganggunya?
            “Jangan berharap,” Reina menjawab cepat. Kata-katanya bertolak belakang terhadap perilakunya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba kembali untuk menemukan pintu ke ruang imajinasi nya, namun selalu gagal.
             “Oh, benarkah?” seringaian tipis muncul di bibir laki-laki tersebut tanpa Reina ketahui. Bola mata hitamnya menatap misterius pada gadis itu.
            Sejenak, keheningan kembali menyelimuti mereka. Suasana canggung kembali terasa. Tidak ada yang mau, atau berani membuka suara untuk membuka percakapan. Membiarkan diri mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara detik jam yang mengisi ruang kosong di antara mereka untuk beberapa saat.
            “Permisi, satu Mixed Berries Parfait, Cappuccino Latte, dan Choco Lava Cake sudah siap,” suara seorang pelayan yang tiba-tiba datang membuyarkan pikiran mereka, menolehkan kepala masing-masing ke arah pelayan tersebut dengan seulas garis lengkung di bibir masing-masing.
            “Terima kasih,” ucap Reina dan Chase hampir bersamaan. Menatap kepergian pelayan tersebut sekilas sebelum mengalihkan pandangan ke hidangan di depannya.
            Reina meraih segelas parfait yang dia pesan, mencobanya sesendok sebelum pandangannya teralihkan oleh satu buah Choco Lava Cake yang Chase sodorkan pada dirinya. Mengangkat salah satu alisnya bingung sambil menatap laki-laki penuh misteri di depannya tersebut tanpa sepatah kata keluar dari bibir tipisnya. Dia bingung, terlalu bingung.
            “Makan saja,” Chase menjawab singkat seraya meminum Cappuccino Latte yang tadi ia pesan. Menikmati rasa kopi dan susu dengan krim yang berpadu sempurna di dalam gelas kecil tersebut. Meminumnya perlahan seakan enggan merusak Latte Art dengan bentuk hati sebagai hiasan minuman itu.
            Ia tidak mengetahui, atau mungkin ia sudah tahu namun tidak ingin menghiraukan, tatapan dari sepasang manik coklat yang sedari tadi tidak berpaling darinya, membuat kesan imut terpampang pada wajah gadis di depannya. Mungkin Chase harus mencatat hal ini di daftar ‘hal-hal yang disukai dari Reina’.
            “Apa yang kau rencanakan, Chase?” Reina bertanya, rasa ragu nya masih belum hilang.
            “Makan saja dahulu, nona. Tenang saja, aku bukanlah tipe laki-laki yang mampu menaruh racun pada makanan untuk seorang gadis manis,” Chase menjawab dengan rangkaian kata-kata penuh misterinya. Menampilkan seulas garis lengkung di bibir sambil menatap gadis di depannya tersebut, meyakinkannya.
            “Hentikan kata-katamu, itu tidak lucu,” Reina menjawab cepat. Dia tidak terlalu suka dipanggil ‘manis’. Terlebih oleh pemuda berambut spike di depannya ini. Telinga nya sudah cukup lelah mendengar nada-nada godaan dari Chase saat mereka SMA.
Berbalik dengan kata-katanya, Reina menarik Choco Lava Cake ke depannya, mengambil garpu kecil dan mulai memotong sedikit roti berlapis coklat di depannya. Lelehan coklat di dalamnya melebur keluar dari dalam roti, seperti gunung berapi yang memuntahkan lavanya. Membuat aroma khas coklat yang menggelitik hidung langsung tercium keluar dari dalam roti.
            Memasukkan sesuap kue coklat tersebut ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan, menikmati tiap rasa manis dan pahit coklat yang meleleh di indra perasanya. Sepertinya Reina akan mencantumkan kue ini di daftar favoritnya.
             Gadis itu melirik Chase, yang masih memasang senyum misterius, dari sudut matanya sebelum mengambil sesuap kue di depannya lagi. Memotongnya lebih dalam, membiarkan lelehan coklat lebih banyak keluar dan memenuhi piring kecil tempat kue tersebut dihidangkan.
            Klak.
            Suara ketukan bertemunya dua benda logam menghentikan aktifitas Reina. Menggerakkan matanya ke bawah untuk mencari asal suara tersebut berasal. Apa garpu yang dipegangnya mengenai sesuatu? Bukan, bukan dari piring yang menjadi tempat kue itu. Ini seperti mengenai benda yang lebih kecil dan lebih keras.
            Benda kecil berbentuk lingkaran yang sedikit bersinar terkena sorotan sinar mentari nampak di tengah-tengah coklat cair di depannya. Warna nya yang terlihat putih dengan sedikit semburat emas membuat benda tersebut mencolok dibandingkan sekitarnya yang didominasi warna coklat kehitaman. Inikah benda yang garpunya kenai tadi?
            Perlahan Reina mencoba mengambil benda kecil tersebut. Gadis itu tidak menyadari bahwa laki-laki di depannya terus memperhatikan tingkah lakunya, apa yang dia lakukan setiap detik tidak luput dari pandangan laki-laki itu.
            “Ini..,” bola mata coklat gadis itu melebar melihat benda tadi yang kini sudah nampak jelas bentuknya. Sebuah lingkaran dengan warna putih dan semburat emas dihiasi beberapa batu permata putih yang berkilau, “Cincin?”
            Garis lengkung di bibir Chase makin melebar melihat reaksi gadis polos di depannya itu, “Bagaimana menurutmu?”
            Reina segera mengalihkan pandangannya kepada Chase. Bola mata coklatnya masih melebar tidak percaya, bibirnya terbuka namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Dia kaget dan bingung, apa sebenarnya maksud laki-laki tersebut?
            Tidak ingin berlama-lama, Chase mengulurkan tangannya dan mengambil benda kecil di depan Reina tersebut. Mengangkatnya sejajar dengan posisi wajah mereka berdua, membingkai wajah gadis itu.
            “Kau tahu, aku butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan benda ini,” Chase berkata sambil memainkan benda yang ia maksud dengan tangannya. Mengalihkan pandangannya dari wajah manis gadis di depannya dan ganti menatap benda yang dimaksud.
            Kata-kata Chase membuat Reina makin terdiam. Wajah gadis itu mulai kembali seperti semula, tidak lagi terpampang ekspresi kaget disana. Pipinya terlihat sedikit merona merah, namun ia hanya diam dan menatap lurus ke laki-laki di depannya, memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir laki-laki tersebut.
            “Aku memeras otakku dan menyiapkan mentalku selama seminggu, harus mendengarkan beribu-ribu nasehat dan kemarahan, menyiapkan segala persyaratan yang ditujukan, bahkan aku juga hampir ditolak,” Chase menjelaskan panjang lebar tanpa jeda. Menggerakkan tangan dan mimik wajahnya juga sesekali berubah, seakan ingin menjelaskan secara detail semua kejadian yang ia alami.
            Reina berkedip sekali, bola mata coklatnya kembali memancarkan sedikit kebingungan, “Apa dan siapa yang kau maksud?”
             Chase mengalihkan pandangannya dan kembali menatap gadis itu, kekesalan sedikit tersirat di raut wajahnya ketika mengetahui jika Reina masih belum mengetahui apa yang ingin ia sampaikan.
            “Ayahmu,” menghela nafas, Chase memperbaiki posisi duduknya dan menghadap gadis itu seluruhnya, “Aku bercerita bagaimana sulitnya untuk mendapat persetujuan dari orang tuamu, nona manis.”
            Wajah Reina seketika merona sepenuhnya saat mendengarkan penjelasan langsung dari laki-laki tersebut. Dia benar-benar tidak percaya jika yang Chase katakan itu benar. Mulutnya kembali terbuka tanpa sepatah kata yang keluar. Dia bingung. Apa yang harus dia katakan?
            Sepertinya takdir benar-benar mempermainkannya kali ini. Dia tidak tahu harus menanggapi apa. Kenapa jantungnya menjadi berdebar-debar? Kenapa dadanya seperti diisi oleh ribuan kupu-kupu yang hendak terbang? Kenapa sekarang pipinya menjadi hangat? Kenapa sekarang rasanya sulit sekali untuk melihat laki-laki di depannya itu? Pikirannya terpenuhi oleh berbagai pertanyaan tanpa satupun jawaban.
            “Aku melamarmu, Reina.”
Gadis itu tampak terhenyak mendengar kata yang tiba-tiba diucapkan oleh Chase, dia menatap laki-laki itu tidak percaya sebelum mengedarkan pandangannya ke lantai kayu ruangan, menyembunyikan rona merah yang makin muncul di pipi putihnya.
Chase kembali mengulurkan tangannya, memegang pergelangan tangan gadis di depannya sebelum menariknya mendekat dengan perlahan. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk menutup komputer di depan gadis tersebut, ia ingin menatap gadis itu seluruhnya tanpa penghalang.
“Aku ingin kau menemaniku selamanya,” Chase memberanikan diri untuk menyentuh dagu Reina, mengangkat wajah merona gadis tersebut yang sedari tadi menunduk. Tatapan lembut namun penuh keseriusan nampak di mata hitamnya, “Apa kau menerimanya?”
Kelihatannya takdir bertindak serius kali ini. Reina tidak pernah melihat raut wajah Chase yang seperti ini semenjak dia bertemu laki-laki itu. Namun jika yang Chase katakan tadi benar, tentang bagaimana usahanya, itu berarti laki-laki di depannya ini benar-benar serius.
Gadis manis itu kembali mengingat ketika masa mereka SMA. Ketika dia dan Chase bertemu pertama kali di koridor saat pengumuman hasil tes semester yang pertama. Ketika dia dan Chase terlibat sedikit pertengkaran dan bertaruh dengan hasil tes berikutnya. Disaat ketika dia mengetahui bahwa diam-diam Chase mengusir beberapa siswa yang menganggunya dan menghiburnya dikala dia sedih. Juga saat dia mengetahui jika Chase tidak mengikuti perpisahan dan justru pergi menengoknya yang sedang sakit dengan alasan kasihan. Chase memperhatikannya. Laki-laki itu memperhatikannya selama ini. Dan Reina baru menyadarinya.
“Jadi? Jawabanmu?” Reina seketika tersadar dari lamunannya. Chase masih menatapnya sedari tadi tanpa beralih. Genggaman tangannya pada gadis itu semakin mengerat, dan wajahnya kini menyiratkan sedikit rasa khawatir.
 Suara detik jam kembali mengisi ruang kosong diantara mereka. Memberikan waktu kepada gadis manis itu menyiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan laki-laki tadi.
“Orang berkata bahwa aku belum bisa bertindak dewasa, terlalu penyendiri, dingin, dan kadang menyebalkan,” Reina mengalihkan pandangannya ke arah sekumpulan tanaman hijau yang berada di sudut ruangan, menghela nafasnya perlahan sebelum melanjutkan perkataannya, “Jika kau mau menerimaku yang seperti ini, maka aku tidak keberatan.”
Kata-kata yang terucap dari bibir Reina membuat wajah laki-laki di depannya menjadi cerah kembali. Ia tersenyum bahagia sembari memegang tangan gadis itu erat. Setidaknya ia beruntung sudah memesan kafe itu jauh-jauh hari, sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui peristiwa paling membahagiakan dalam hidupnya ini.
Tidak menunggu lama, Chase segera mengeluarkan cincin yang ia bawa tadi. Menarik perlahan jari-jari lentik milik gadis di depannya tersebut, seakan jari-jari itu adalah benda rapuh yang butuh perlakuan khusus, dan memasangkan cincin tadi di jari manisnya. Memasang tanda bahwa gadis tersebut tidak akan lama lagi akan menjadi miliknya dan mengecup jarinya yang berhiaskan cincin itu perlahan.

Hari Sabtu pagi sekitar pukul 09.00 di sebuah kafe sederhana di pusat kota, takdir menunjukkan kebaikannya pada seorang Chase Giovan. Satu buket bunga mawar putih dan lavender, segelas Parfait, Cappuccino Latte, dan sebuah Choco Lava Cake menjadi saksi peristiwa manis baginya saat itu. Peristiwa dimana akhirnya ia mendapatkan hal yang paling ia cari sedari dulu. Peristiwa dimana laki-laki itu berhasil mendapatkan gadis impiannya, seorang gadis pendiam yang dulu suka mengasingkan diri, yang mampu menarik hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar