Parfait,
Cappuccino Latte, and Choco Lava Cake
Oleh:
Listyaputri
Suara
derap langkahnya terdengar mendecit dari lantai kayu. Perlahan namun pasti,
menggerakkan kaki nya ke arah salah satu meja di pojok ruangan minimalis bercat
lavender dan putih tersebut. Memilih meja berkursi dua yang berada di pojok
ruangan dibandingkan meja-meja yang lain yang tersebar di ruangan seluas
sekitar 10 x 7 meter itu merupakan kebiasaannya setiap dia datang kemari.
Rambut hitam panjang bergelombang yang masih asli, bukan
hasil membuang-buang lembaran kertas hijau di sebuah tempat bernama salon.
Kulit putih yang nampak seperti pasir pantai yang belum terinjak oleh siapapun,
dan sebuah kacamata berbingkai biru tua dengan sedikit corak silver yang
menghalangi mata coklat nya dari pandangan langsung orang-orang, berpadu
lengkap dengan kaus lengan panjang berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga
kecil berwarna merah, ditambah dengan hoodie
lengan pendek berwarna jingga. Celana panjang berwarna hitam yang tidak terlalu
menempel kulit, nampak sangat cocok menutupi kaki rampingnya dan seakan
berusaha menyembunyikan fakta bahwa tingginya hanya sekitar 165 cm di usianya
yang 19 tahun ini.
Perpaduan bunga mawar putih serta lavender yang ditata
sedemikian rupa di atas setiap meja seakan menyambut perempuan manis ini yang
selalu datang pada hari Sabtu di tempat tersebut. Kursi-kursi dan meja-meja
kayu yang berada di sekitar ruangan mengkilat terkena sinar matahari pagi yang
belum lama muncul dari persembunyiannya. Aroma Cappucino dari sebuah konter di sebelah kiri ruangan tersebut
seakan menyambut kedatangannya.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 07.30 saat gadis itu
mendudukkan dirinya dengan elegan di salah satu kursi dan meletakkan tas
selempang berwarna coklat yang dibawanya dengan hati-hati di atas meja.
Menikmati suasana pagi di luar jendela untuk beberapa saat sebelum tangannya
mulai bergerak untuk mengeluarkan benda elektronik berbentuk persegi panjang
dari dalam tasnya dan menyalakan benda tersebut.
“Selamat pagi, nona. Anda ingin pesan apa?” kegiatannya
terhenti sejenak ketika suara dari seorang pelayan menggelitik telinganya.
“Satu Mix Berries
Parfait,” menjawab singkat, mengabaikan selembar kertas berisikan menu yang
tersedia di depannya.
“Mohon tunggu sebentar,” dengan sigap, pelayan berbaju
putih dengan bandana merah muda yang ada di sampingnya itu langsung mencatat
pesanannya.
Menunggu hingga derap langkah pelayan tersebut menjauh,
sebelum dia melanjutkan kegiatannya. Menggerakkan kursor di layar benda
elektronik di depannya dan mulai membuka sebuah file. Jari jemarinya yang
lentik perlahan menari di atas keyboard,
menorehkan kata-kata indah yang penuh makna di layar monitor, seakan hanyut
dalam dunianya sendiri. Siapa yang tidak mengenal Reina Violet? Seorang novelis
yang namanya sedang melambung karena karya-karyanya yang membuat orang-orang
terpesona.
Kring!
Suara bel dari pintu yang terdengar sangat jelas
ditelinganya sedikit mengusik imajinasi yang perempuan tersebut pikirkan. Dia
terus menatap layar monitor di depannya tanpa memperdulikan siapa yang datang.
Dia sudah terlalu hafal orang tersebut sejak enam bulan lalu. Seorang laki-laki
yang selalu mengganggu konsentrasinya karena datang di saat yang hampir
bersamaan dengan dirinya dengan alasan ‘tidak sengaja’.
--------------------------------------------------------------------------
Enam bulan yang lalu, hari Sabtu pagi yang cerah. Kicau
burung menemani tiap langkah orang-orang yang masih sibuk berlalu lalang. Awan
putih sehalus kapas tersibak, membiarkan sinar sang surya menghangatkan hati
orang-orang yang beku.
Seorang gadis manis terlihat duduk di pojok ruangan yang
sepi, belum tampak ada pembeli lainnya yang datang, apalagi hari masih pagi
seperti ini. Dia tampak asyik berkutik dengan mesin elektronik di depannya
seperti hari-hari yang lalu. Segelas Parfait
yang terlihat baru dimakan sesuap tampak di depannya.
“Giovan! Giovan!” suara para gadis yang mencekik telinga
di jalanan luar sejenak menghentikan aktifitasnya. Dia seperti pernah mendengar
nama tersebut, sangat sering. Tapi siapa? Kebiasaannya berpikir jauh untuk
membuat sebuah novel sepertinya membuat ingatannya sedikit kabur.
Kring!
Bel di pintu depan berbunyi, diikuti dengan hembusan
nafas tidak beraturan dari seseorang yang memasuki pintu tersebut. Sedikit
tertarik, Reina mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan terfokus
pada layar komputer. Melihat untuk memastikan siapa orang yang datang sepagi ini
di tempat itu selain dirinya.
Mata coklatnya seketika melebar ketika dia mengetahui
siapa orang yang baru masuk tadi, orang yang namanya terus diteriakkan para
gadis di jalanan luar. Orang yang ternyata sangat dikenalnya. Mulutnya terbuka
ketika pandangannya dan orang tersebut bertabrakan. Mereka saling menatap satu
sama lain dengan tatapan tidak percaya. Tidak percaya jika takdir akan
mempermainkan mereka lagi setelah tiga tahun berlalu.
“Chase?”
“Reina?”
--------------------------------------------------------------------------
“Selamat pagi!” orang tersebut menyapa dengan meninggikan
suaranya dan langsung duduk di depannya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Chase Giovan, seorang model papan atas yang sedang naik
daun. Rambut model spike berwarna
coklat miliknya nampak sedikit basah, bersinar terkena matahari pagi. Bola mata
hitamnya terhalang oleh kacamata berwarna senada yang selalu ia kenakan saat
berkunjung ke tempat tersebut, beralasan bahwa benda itu ia gunakan untuk
penyamaran bagi seorang model terkenal seperti dirinya. Kaus putih polos
berpadu pas dengan jaket biru tua dan celana denim yang ia kenakan.
“Tolong
satu Cappuccino Latte,” Ia berkata
lantang pada pelayan yang sebelumnya datang ke meja tersebut dan dengan segera
dijawab dengan sebuah anggukan oleh pelayan itu.
Mengabaikan laki-laki di depannya, Reina terus berkutik
dengan huruf-huruf yang terpampang dihadapannya. Pikirannya melambung jauh,
seakan dibawa pergi oleh angin hingga ke langit tertinggi. Sama sekali tidak
mengetahui bola mata hitam yang menatapnya sedari tadi, memperhatikan
gerakannya setiap detik tanpa ada yang terlewat.
“Hai,” orang yang menatapnya tersebut memberanikan diri
untuk membuka percakapan, tidak tahan dengan suasana canggung yang selalu
tercipta ketika keduanya bertemu.
Hening menyelimuti. Tidak ada respon dan tidak ada kata
yang keluar dari mulut gadis manis tersebut yang menanggapi. Hanya terdengar
suara detik jam yang menggema di seluruh ruangan yang berisi dua orang
tersebut.
“Hai,” tidak menyerah, Chase menaikkan sedikit intonasi
suaranya. Melambai-lambaikan tangannya di depan gadis tersebut perlahan.
Mencoba agar gadis itu keluar dari imajinasinya dan setidaknya merespon
dirinya.
Hanya suara detik jam yang kembali terdengar. Seakan
gadis tersebut belum menemukan pintu keluar dari dunia imajinasinya, atau
mungkin dia sudah menemukannya namun enggan untuk membuka.
“Reina,” masih tidak menyerah, Chase makin
mengulurkan tangannya. Mencoba untuk mengambil kacamata biru tua yang
menyembunyikan permata coklat yang gadis itu miliki.
“Apa maumu, Chase?” usahanya berhasil. Reina menepis
perlahan tangan Chase dan menarik
tubuhnya menjauh, menatap laki-laki di depannya itu dengan sedikit geram.
Sejak bertemu enam bulan lalu, Chase membuatnya jengkel.
Sudah tiga tahun mereka lulus dari SMA dan tingkah laki-laki tersebut masih
sama. Jalan yang mereka pilih kini sudah berbeda, bisakah setidaknya ia
mengerti keadaan masing-masing? Seorang model dan seorang novelis adalah
pekerjaan yang jauh berbeda. Ia seharusnya tahu hal itu.
“Tidak ada apa-apa,” seulas garis lengkung muncul di
bibir Chase. Seakan puas karena usahanya berhasil. Ia menatap gadis itu lagi
untuk beberapa saat sebelum berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah dapur di
kafe tersebut.
Reina menatap punggung laki-laki itu dengan penuh
kebingungan. Bertanya-tanya dalam hati tentang kelakuan laki-laki yang menjadi
saingannya semasa SMA dahulu. Nampak dimatanya jika laki-laki itu berkata
sesuatu pada seorang pelayan. Dia juga melihat ada kotak kecil berbentuk
persegi yang entah apa isinya, diberikan kepada pelayan tersebut.
Tidak ingin berpikir makin jauh, Reina kembali
memfokuskan pikirannya kepada barisan kata yang tertera di monitor. Dia sudah
hampir mencapai akhir, namun imajinasinya telah dirusak oleh laki-laki tersebut,
barusan. Apa yang tadi Chase berikan pada pelayan tersebut? Dia tidak bisa
berhenti untuk berpikir tentang hal itu.
“Memperhatikanku?” suara laki-laki tersebut kembali
terdengar di telinganya, lagi. Jika ini adalah kafe miliknya, pasti Reina akan
melempar laki-laki itu dengan kursi yang ada. Bisakah untuk sedetik Chase tidak
mengganggunya?
“Jangan berharap,” Reina menjawab cepat. Kata-katanya
bertolak belakang terhadap perilakunya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba
kembali untuk menemukan pintu ke ruang imajinasi nya, namun selalu gagal.
“Oh, benarkah?” seringaian tipis muncul di bibir
laki-laki tersebut tanpa Reina ketahui. Bola mata hitamnya menatap misterius
pada gadis itu.
Sejenak, keheningan kembali menyelimuti mereka. Suasana
canggung kembali terasa. Tidak ada yang mau, atau berani membuka suara untuk
membuka percakapan. Membiarkan diri mereka terlarut dalam pikiran
masing-masing. Hanya suara detik jam yang mengisi ruang kosong di antara mereka
untuk beberapa saat.
“Permisi, satu Mixed
Berries Parfait, Cappuccino Latte, dan Choco
Lava Cake sudah siap,” suara seorang pelayan yang tiba-tiba datang
membuyarkan pikiran mereka, menolehkan kepala masing-masing ke arah pelayan
tersebut dengan seulas garis lengkung di bibir masing-masing.
“Terima kasih,” ucap Reina dan Chase hampir bersamaan.
Menatap kepergian pelayan tersebut sekilas sebelum mengalihkan pandangan ke
hidangan di depannya.
Reina meraih segelas parfait
yang dia pesan, mencobanya sesendok sebelum pandangannya teralihkan oleh satu
buah Choco Lava Cake yang Chase
sodorkan pada dirinya. Mengangkat salah satu alisnya bingung sambil menatap
laki-laki penuh misteri di depannya tersebut tanpa sepatah kata keluar dari
bibir tipisnya. Dia bingung, terlalu bingung.
“Makan saja,” Chase menjawab singkat seraya meminum Cappuccino Latte yang tadi ia pesan.
Menikmati rasa kopi dan susu dengan krim yang berpadu sempurna di dalam gelas
kecil tersebut. Meminumnya perlahan seakan enggan merusak Latte Art dengan bentuk hati sebagai hiasan minuman itu.
Ia tidak mengetahui, atau mungkin ia sudah tahu namun
tidak ingin menghiraukan, tatapan dari sepasang manik coklat yang sedari tadi
tidak berpaling darinya, membuat kesan imut terpampang pada wajah gadis di
depannya. Mungkin Chase harus mencatat hal ini di daftar ‘hal-hal yang disukai
dari Reina’.
“Apa yang kau rencanakan, Chase?” Reina bertanya, rasa
ragu nya masih belum hilang.
“Makan saja dahulu, nona. Tenang saja, aku bukanlah tipe
laki-laki yang mampu menaruh racun pada makanan untuk seorang gadis manis,”
Chase menjawab dengan rangkaian kata-kata penuh misterinya. Menampilkan seulas
garis lengkung di bibir sambil menatap gadis di depannya tersebut,
meyakinkannya.
“Hentikan kata-katamu, itu tidak lucu,” Reina menjawab
cepat. Dia tidak terlalu suka dipanggil ‘manis’. Terlebih oleh pemuda berambut spike di depannya ini. Telinga nya sudah
cukup lelah mendengar nada-nada godaan dari Chase saat mereka SMA.
Berbalik
dengan kata-katanya, Reina menarik Choco
Lava Cake ke depannya, mengambil garpu kecil dan mulai memotong sedikit
roti berlapis coklat di depannya. Lelehan coklat di dalamnya melebur keluar
dari dalam roti, seperti gunung berapi yang memuntahkan lavanya. Membuat aroma
khas coklat yang menggelitik hidung langsung tercium keluar dari dalam roti.
Memasukkan sesuap kue coklat tersebut ke dalam mulutnya.
Mengunyahnya perlahan, menikmati tiap rasa manis dan pahit coklat yang meleleh
di indra perasanya. Sepertinya Reina akan mencantumkan kue ini di daftar
favoritnya.
Gadis itu melirik Chase, yang masih memasang senyum
misterius, dari sudut matanya sebelum mengambil sesuap kue di depannya lagi. Memotongnya
lebih dalam, membiarkan lelehan coklat lebih banyak keluar dan memenuhi piring
kecil tempat kue tersebut dihidangkan.
Klak.
Suara ketukan bertemunya dua benda logam menghentikan
aktifitas Reina. Menggerakkan matanya ke bawah untuk mencari asal suara
tersebut berasal. Apa garpu yang dipegangnya mengenai sesuatu? Bukan, bukan
dari piring yang menjadi tempat kue itu. Ini seperti mengenai benda yang lebih
kecil dan lebih keras.
Benda kecil berbentuk lingkaran yang sedikit bersinar
terkena sorotan sinar mentari nampak di tengah-tengah coklat cair di depannya.
Warna nya yang terlihat putih dengan sedikit semburat emas membuat benda
tersebut mencolok dibandingkan sekitarnya yang didominasi warna coklat
kehitaman. Inikah benda yang garpunya kenai tadi?
Perlahan Reina mencoba mengambil benda kecil tersebut.
Gadis itu tidak menyadari bahwa laki-laki di depannya terus memperhatikan
tingkah lakunya, apa yang dia lakukan setiap detik tidak luput dari pandangan
laki-laki itu.
“Ini..,” bola mata coklat gadis itu melebar melihat benda
tadi yang kini sudah nampak jelas bentuknya. Sebuah lingkaran dengan warna
putih dan semburat emas dihiasi beberapa batu permata putih yang berkilau,
“Cincin?”
Garis lengkung di bibir Chase makin melebar melihat
reaksi gadis polos di depannya itu, “Bagaimana menurutmu?”
Reina segera mengalihkan pandangannya kepada Chase. Bola
mata coklatnya masih melebar tidak percaya, bibirnya terbuka namun tidak ada
sepatah kata pun yang keluar. Dia kaget dan bingung, apa sebenarnya maksud
laki-laki tersebut?
Tidak ingin berlama-lama, Chase mengulurkan tangannya dan
mengambil benda kecil di depan Reina tersebut. Mengangkatnya sejajar dengan
posisi wajah mereka berdua, membingkai wajah gadis itu.
“Kau tahu, aku butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan
benda ini,” Chase berkata sambil memainkan benda yang ia maksud dengan
tangannya. Mengalihkan pandangannya dari wajah manis gadis di depannya dan
ganti menatap benda yang dimaksud.
Kata-kata Chase membuat Reina makin terdiam. Wajah gadis
itu mulai kembali seperti semula, tidak lagi terpampang ekspresi kaget disana.
Pipinya terlihat sedikit merona merah, namun ia hanya diam dan menatap lurus ke
laki-laki di depannya, memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan setiap
kata yang terucap dari bibir laki-laki tersebut.
“Aku memeras otakku dan menyiapkan mentalku selama
seminggu, harus mendengarkan beribu-ribu nasehat dan kemarahan, menyiapkan
segala persyaratan yang ditujukan, bahkan aku juga hampir ditolak,” Chase
menjelaskan panjang lebar tanpa jeda. Menggerakkan tangan dan mimik wajahnya
juga sesekali berubah, seakan ingin menjelaskan secara detail semua kejadian
yang ia alami.
Reina berkedip sekali, bola mata coklatnya kembali
memancarkan sedikit kebingungan, “Apa dan siapa yang kau maksud?”
Chase mengalihkan pandangannya dan kembali menatap gadis
itu, kekesalan sedikit tersirat di raut wajahnya ketika mengetahui jika Reina
masih belum mengetahui apa yang ingin ia sampaikan.
“Ayahmu,” menghela nafas, Chase memperbaiki posisi
duduknya dan menghadap gadis itu seluruhnya, “Aku bercerita bagaimana sulitnya
untuk mendapat persetujuan dari orang tuamu, nona manis.”
Wajah Reina seketika merona sepenuhnya saat mendengarkan
penjelasan langsung dari laki-laki tersebut. Dia benar-benar tidak percaya jika
yang Chase katakan itu benar. Mulutnya kembali terbuka tanpa sepatah kata yang
keluar. Dia bingung. Apa yang harus dia katakan?
Sepertinya takdir benar-benar mempermainkannya kali ini.
Dia tidak tahu harus menanggapi apa. Kenapa jantungnya menjadi berdebar-debar?
Kenapa dadanya seperti diisi oleh ribuan kupu-kupu yang hendak terbang? Kenapa
sekarang pipinya menjadi hangat? Kenapa sekarang rasanya sulit sekali untuk
melihat laki-laki di depannya itu? Pikirannya terpenuhi oleh berbagai
pertanyaan tanpa satupun jawaban.
“Aku melamarmu, Reina.”
Gadis
itu tampak terhenyak mendengar kata yang tiba-tiba diucapkan oleh Chase, dia
menatap laki-laki itu tidak percaya sebelum mengedarkan pandangannya ke lantai
kayu ruangan, menyembunyikan rona merah yang makin muncul di pipi putihnya.
Chase
kembali mengulurkan tangannya, memegang pergelangan tangan gadis di depannya
sebelum menariknya mendekat dengan perlahan. Tangannya yang bebas ia gunakan
untuk menutup komputer di depan gadis tersebut, ia ingin menatap gadis itu
seluruhnya tanpa penghalang.
“Aku
ingin kau menemaniku selamanya,” Chase memberanikan diri untuk menyentuh dagu
Reina, mengangkat wajah merona gadis tersebut yang sedari tadi menunduk.
Tatapan lembut namun penuh keseriusan nampak di mata hitamnya, “Apa kau menerimanya?”
Kelihatannya
takdir bertindak serius kali ini. Reina tidak pernah melihat raut wajah Chase
yang seperti ini semenjak dia bertemu laki-laki itu. Namun jika yang Chase
katakan tadi benar, tentang bagaimana usahanya, itu berarti laki-laki di
depannya ini benar-benar serius.
Gadis
manis itu kembali mengingat ketika masa mereka SMA. Ketika dia dan Chase
bertemu pertama kali di koridor saat pengumuman hasil tes semester yang
pertama. Ketika dia dan Chase terlibat sedikit pertengkaran dan bertaruh dengan
hasil tes berikutnya. Disaat ketika dia mengetahui bahwa diam-diam Chase
mengusir beberapa siswa yang menganggunya dan menghiburnya dikala dia sedih.
Juga saat dia mengetahui jika Chase tidak mengikuti perpisahan dan justru pergi
menengoknya yang sedang sakit dengan alasan kasihan. Chase memperhatikannya.
Laki-laki itu memperhatikannya selama ini. Dan Reina baru menyadarinya.
“Jadi?
Jawabanmu?” Reina seketika tersadar dari lamunannya. Chase masih menatapnya
sedari tadi tanpa beralih. Genggaman tangannya pada gadis itu semakin mengerat,
dan wajahnya kini menyiratkan sedikit rasa khawatir.
Suara
detik jam kembali mengisi ruang kosong diantara mereka. Memberikan waktu kepada
gadis manis itu menyiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan laki-laki tadi.
“Orang
berkata bahwa aku belum bisa bertindak dewasa, terlalu penyendiri, dingin, dan
kadang menyebalkan,” Reina mengalihkan pandangannya ke arah sekumpulan tanaman
hijau yang berada di sudut ruangan, menghela nafasnya perlahan sebelum melanjutkan
perkataannya, “Jika kau mau menerimaku yang seperti ini, maka aku tidak
keberatan.”
Kata-kata
yang terucap dari bibir Reina membuat wajah laki-laki di depannya menjadi cerah
kembali. Ia tersenyum bahagia sembari memegang tangan gadis itu erat.
Setidaknya ia beruntung sudah memesan kafe itu jauh-jauh hari, sehingga tidak
ada orang lain yang mengetahui peristiwa paling membahagiakan dalam hidupnya
ini.
Tidak
menunggu lama, Chase segera mengeluarkan cincin yang ia bawa tadi. Menarik
perlahan jari-jari lentik milik gadis di depannya tersebut, seakan jari-jari
itu adalah benda rapuh yang butuh perlakuan khusus, dan memasangkan cincin tadi
di jari manisnya. Memasang tanda bahwa gadis tersebut tidak akan lama lagi akan
menjadi miliknya dan mengecup jarinya yang berhiaskan cincin itu perlahan.
Hari
Sabtu pagi sekitar pukul 09.00 di sebuah kafe sederhana di pusat kota, takdir
menunjukkan kebaikannya pada seorang Chase Giovan. Satu buket bunga mawar putih
dan lavender, segelas Parfait, Cappuccino
Latte, dan sebuah Choco Lava Cake
menjadi saksi peristiwa manis baginya saat itu. Peristiwa dimana akhirnya ia
mendapatkan hal yang paling ia cari sedari dulu. Peristiwa dimana laki-laki itu
berhasil mendapatkan gadis impiannya, seorang gadis pendiam yang dulu suka mengasingkan diri, yang mampu menarik
hatinya.